RESPONS CEPAT LONJAKAN EVAKUASI MEDIS: BKK KELAS I PONTIANAK KAWAL KETAT KEDATANGAN JEMAAH HAJI KLOTER 15
RESPONS CEPAT LONJAKAN EVAKUASI MEDIS: BKK KELAS I PONTIANAK KAWAL KETAT KEDATANGAN JEMAAH HAJI KLOTER 15
Pontianak, 19 Juni 2026 – Memasuki hari kedua masa kepulangan jemaah haji, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Pontianak kembali memperketat Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan Kedatangan di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya pada Kamis, 19 Juni 2026.
Sebanyak 445 orang yang tergabung dalam Kloter 15 Kalimantan Barat tiba dari Bandara Hang Nadim Batam dengan menggunakan 3 penerbangan terpisah. Rombongan ini terdiri dari 438 Jemaah Haji dan didampingi oleh 7 orang petugas yang terdiri dari KBIHU, PHD, dan PPIH.
Pada penerbangan pertama manifestasi penumpang mencatat membawa 29 jemaah Kabupaten Kubu Raya (17 laki - laki dan 12 perempuan) sementara sisanya sebanyak 134 jemaah merupakan warga Kota Pontianak (58 laki-laki dan 76 perempuan) yang didampingi oleh 5 petugas kloter. Adapun penerbangan kedua membawa seluruhnya jemaah asal Kota Pontianak berjumlah 152 orang tanpa pendampingan petugas. Terakhir penerbangan ketiga yang tiba pada pukul 16 : 59 sejumlah 135 jemaah yaitu satu orang laki - laki dari Kabupaten Kubu Raya dan 134 dari Kota Pontianak (58 laki - laki dan 76 perempuan) yang didampingi dua orang petugas kloter.
Lonjakan Evakuasi Medis di Apron Bandara
Berdasarkan hasil pengawasan intensif di apron (area parkir pesawat) Bandara Supadio, tim kesehatan mendeteksi adanya lonjakan jemaah haji yang membutuhkan perhatian medis. Sebanyak 31 orang jemaah terpaksa harus dievakuasi langsung menggunakan ambulans menuju Asrama Haji Transit karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk menaiki bus penjemput standar.
Dari total tersebut, 1 orang jemaah bahkan harus diturunkan dari pesawat dengan menggunakan tandu (stretcher) karena keterbatasan mobilitas yang berat. Sementara itu, 30 jemaah lainnya terpaksa dipapah atau dievakuasi menggunakan kursi roda oleh petugas kesehatan non-kloter BKK Pontianak dan Dinkes Provinsi Kalimantan Barat. Hasil diagnosis awal menunjukkan bahwa hampir seluruh jemaah yang memerlukan ambulans tersebut menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) kronis yang mengalami kelelahan pasca-penerbangan, kecuali salah seorang jemaah dengan ISPA yang dibawa turun pertama kali karena berdasarkan notifikasi dari BBKK Batam bahwa yang bersangkutan perlu dilakukan swab antigen.Swab antigen di asrama haji hasilnya negatif.
Edukasi Kekarantinaan: Tingginya Risiko Evakuasi Pasien Sakit dan Lansia dari Pesawat
Proses pemindahan pasien sakit—terutama jemaah lansia—dari atas kabin pesawat turun menuju apron bukanlah perkara mudah dan memiliki risiko keselamatan (safety risk) yang sangat tinggi. BKK Kelas I Pontianak menekankan beberapa faktor risiko kritis yang wajib dimitigasi dalam proses lifting and carrying (angkat-angkut) pasien di bandara:
Kondisi Antropometri dan Berat Badan Pasien: Mengangkat pasien dengan berat badan berlebih (obesitas) atau pasien yang sepenuhnya lemas (unresponsive/total dependent) di tangga pesawat yang sempit membutuhkan teknik ergonomis khusus. Kesalahan posisi angkat dapat memicu cedera otot (HNP) pada petugas atau risiko pasien terjatuh.
Kerapuhan Fisik Lansia (Frailty Syndrome): Jemaah lansia memiliki kepadatan tulang yang menurun (osteoporosis) dan sendi yang kaku. Guncangan atau teknik memapah yang salah saat menuruni tangga pesawat yang curam dapat memicu dislokasi sendi atau patah tulang.
Risiko Berdasarkan Jenis Penyakit: Pasien dengan PTM kronis seperti penyakit jantung koroner atau hipertensi berat sangat rentan terhadap stres fisik dan psikis. Proses evakuasi yang terburu-buru atau perlakuan kasar saat memindahkan pasien ke ambulans dapat memicu serangan jantung mendadak (cardiac arrest) atau lonjakan tekanan darah (krisis hipertensi).
Faktor Lingkungan Tangga dan Apron: Sudut kemiringan tangga pesawat, hembusan angin kencang di apron, kebisingan mesin pesawat (jet blast), serta permukaan jalan yang tidak rata menuju ambulans menuntut kesiapan fisik, konsentrasi tinggi, dan alat pelindung yang proper dari tim medis.
Oleh karena itu, setiap penanganan evakuasi di BKK Kelas I Pontianak wajib menerapkan prinsip Patient Safety dan mekanika tubuh yang benar guna melindungi pasien sekaligus petugas kesehatan.
Hasil Skrining dan Pemeriksaan Lingkungan Asrama Haji
Setibanya di Asrama Haji Transit Provinsi Kalimantan Barat, seluruh jemaah langsung melewati proses skrining suhu tubuh massal menggunakan thermal scanner. Berdasarkan pemeriksaan, tidak ada satu pun jemaah yang terdeteksi mengalami gejala demam atau penyakit menular berpotensi wabah. Di samping itu, data Poliklinik Asrama Haji mencatat ada 19 orang jemaah dan 2 orang petugas non-kloter yang datang berobat karena keluhan kesehatan ringan. Seluruhnya berhasil ditangani dengan baik dan dinyatakan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit.
Tidak hanya fokus pada manusia, BKK Kelas I Pontianak juga melakukan pengawasan ketat terhadap faktor risiko alat angkut dan lingkungan di sekitar asrama:
Alat Angkut: Pemeriksaan sanitasi dilakukan terhadap 6 unit bus jemaah dengan hasil Memenuhi Syarat (MS), disertai tindakan disinfeksi menyeluruh demi mencegah penularan kuman.
Sanitasi Lingkungan: Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) di area Asrama Haji dinyatakan Memenuhi Syarat (MS).
Kualitas Air: Pemeriksaan sampel kimia air bersih menunjukkan hasil Memenuhi Syarat (MS).
Pengendalian Vektor: Tim masih menemukan adanya keberadaan lalat di beberapa titik, namun dipastikan bebas dari kecoak, tikus, maupun jentik nyamuk. Upaya intervensi lalat segera dikoordinasikan dengan pengelola asrama.
Melalui kesiapan penuh ini, BKK Kelas I Pontianak berkomitmen memegang teguh komitmen Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan dalam mewujudkan “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”. Seluruh jemaah diharapkan dapat kembali ke daerah asal dalam kondisi sehat, aman, dan nyaman. (Humas BKK Kelas I Pontianak)
“Haji Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan”